"Selamat Datang Di Blog KOMPAKS, Blognya Cah-Cah Pekalongan Di Mesir"

Indahnya Bertadabbur Dengan Ayat- Ayat Kauniah Al-Qur'an

Posted by KOMPAKS Monday, December 5, 2011

Oleh: Moch. Mansur Nasri, Lc.
(Anggota Kompaks yang berstatus sebagai mahasiswa S2 Kul. Usuluddin Jur. Tafsir dan Ilmu Al-Quran di Univ. Azhar Cairo).

Alam dunia Kristen pada dekade abad ke-18 di Eropa muncul golongan pembela agama yang disebut "apologetika" sebagai sebuah komunitas kaum intelektual dan terpelajar yang bertujuan menyucikan kembali agama dari setiap unsur-unsur yang hendak diselewengkan, akibatnya karena banyak doktrin dari ajaranya yang tidak bisa di terima oleh nalar keilmuan dan hasil temuan riset yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah maka timbulah pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwannya.

Pertentangan ini disebabkan oleh penafsir-penafsir Kitab Perjanjian Lama/Baru yang menganut teori-teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa yang mengingkarinya dianggap kafir (keluar dari agama) dan berhak mendapat kutukan. Di lain pihak para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah, tetapi hasil penyelidikan mereka bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja.

Pertentangan antara kedua belah pihak terjadi ketika ilmuwan menyatakan bahwa umur dunia -berdasarkan penelitian geologi- lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci. Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang The Origin of Man dan teori-teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman. Akibatnya tidak sedikit ahli-ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain. Hal ini menimbulkan keyakinan di kalangan umum bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama.

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah sebagai hidayah dan manhaj hidup. Sebagai kitab yang diperuntukkan bagi umat terakhir dan untuk setiap waktu dan zaman, Al-Quran dituntut untuk selalu bisa memberikan bukti-bukti kebenarannya karena hal itu maka kita sebagai umat yang telah ditunjuk untuk mengemban amanah ini senantiasa harus menjaga dan dituntut untuk mempelajarinya.
Al-Quran selalu menghimbau pada kita untuk selalu berpikir, bertadabbur dengan ayat-ayatnya dan segala ciptaan Allah penguasa alam semesta. Sebagaimana Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ مِن شَيْءٍ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah”. (QS. Al-A'raf: 175).

Di ayat yang lain allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Dengan ayat-ayat tadi Allah telah menunjukkan kekuasan-Nya dan menganjurkan kita untuk selalu bertafakkur dan bertadabbur dengan ciptaan-Nya.

Al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi kita yang diturunkan sekitar abad ke-7 M, telah mencakup segala hal sebagai penjelas, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kita. 

Allah berfirman:

ما فرطنا فى الكتاب من شئ 

“Tidak kami lewatkan sesuatu apapun dalam al-Kitab (al-Qur'an)". (QS. Al-An’am: 38). 

Di ayat lain allah juga berfirman:

ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيئ وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين 
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan menjadi petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri". (QS. An-Nahl: 89). 

Al-Quran yang telah diturunkan kepada kita tidak hanya memuat tauhid, norma-norma hukum dan nilai-nilai akhlak saja, tapi juga memuat hal-hal yang bersifat ilmiah yang bisa dibuktikan kebenaranya dimasa sekarang dengan melalui riset dan penelitian secara ilmiah.

Suatu ketika amirul mukminin sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan kepada sayidina Ibnu Abbas disaat menafsirkan ayat yang berbunyi:

ومن كل شيئ خلقنا زوجين 
"Dan setiap sesuatu kami ciptakan berpasangan".
Maka sayidina Ali bin Abi Thalib berkata: "Apa yang tidak kamu ketahui tentang makna ayat Al-Quran, biarkanlah, sebab nanti dimasa depan akan ada orang yang dapat menguaknya.

Imam ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Jawahirul Qur’an mengatakan: "bahwa Al-Quran sebagai wahyu Allah, adalah kitab yang merangkum seluruh ilmu pengetahuan. Dengan maksud bahwa Al-Quran telah memuat isyarat-isyarat seluruh ilmu pengetahuan yang ada".

Hal inipun sebelumnya telah di utarakan oleh para ulama salaf di antaranya shabat ibnu mas’ud ra berkata: 

 من أراد علم الأولين و الآ خرين فليتدبر القـرآن
"Barang siapa ingin mengetahui ilmu generasi salaf dan generasi akhir maka tadabburilah alquran".

Sahabat Abu Darda’ berkata: 
لا يفقه الرجل حتى يجعل للقرآن وجوها

"Seseorang tidak bisa dikatakan tahu, mengerti, pintar sehingga dia menjadikan alquran beberapa segi". 

Demikianlah kesaksian para ulama salaf terhadap Al-Quran kitab suci umat Islam.

Pada era awal tumbuhnya Islam, penafsiran sudah dilakukan para salaf, bahkan nabi sendiri disamping sebagai sumber hukum, juga sebagai penafsir al-Quran yang paling otoritatif. Kemudian dilanjutkan para sabatnya seperti sayidina Abdullah Ibnu Mas’ud, sayidina Abdullah bin Abbas, sayidina Zaid bin Tsabit, sayidah A’isyah, sayidina Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat mulia yang lainnya. Kemudian dilanjutkan generasi selanjutnya para tabi’in dan tabi’it-tabi'in. Metode tafsir yang menggunakan metode periwayatan seperti ini, dikenal dengan tafsir bil-ma'tsur. Kemudian berkembang lagi pada generasi selanjutnya yang menggunakan metode bil-ra’yi untuk menafsirkan al-Quran. Seperti: Imam ar-Razi, Imam Zamakhsyari, Abi Hayyan Andalusi, Ibnu Sa'ud dan sederet ulama lainya. Penafsiran inipun beragam dalam bidang-bidang tertentu, ada yang condong kebidang teologi, linguistik, hukum-hukum syariat bahkan isyarat-isyarat untuk mendekatkan diri pada Allah yang biasa dikenal dengan tafsir sufi/isyari. 

Pada masa dekade abad ke-20 ini, seiring perkembangan ilmu teknologi semakin canggih telah muncul metode baru yaitu tafsir saintifik. Kemunculan ini berangakat dari para ilmuan islam ketika melihat ayat-ayat Al-Quran yang telah banyak mengandung isyarat-isyarat ilmiah yang perlu dikaji ulang dan dibuktikan kebenarannya. Maka dalam hal ini ulama berlomba-lomba untuk menguak misteri dan nilai hikmah dibalik ayat-ayatnya.

Maka dalam tulisan ringan ini penulis mengajak pembaca untuk sedikit merenungi dan mentadabburi bebarapa ayat al-Quran yang mengandung nilai ilmiah, yang sisi kebenaranya hanya bisa di buktikan pada masa moderen ini melalui penelitian para ulama saint yang telah melakukan riset dan penelitian secara mendalam. Kebenaran ini semoga bisa menumbuhkan rasa keyakinan dan keimanan akan agama kita yang lurus, tidak bertentangan pada ilmu pengetahuan modern dan menambah kecintaan kita pada al-Quran dengan senantiasa mentadabburi ayat-ayat-Nya.

Dalam surat al-Ghasyiah ayat 17-20 Allah berfirman:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ{17} وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ{18} وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ{19} وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghasyiah: 17-20).

Ayat-ayat di atas menganjurkan kita untuk berpikir dan merenungkan ciptaan-Nya yang begitu agung dan tersirat di dalamnya nilai keilmuan yang luar biasa. Mungkin sesaat bila memperhatikan ayat di atas, maka akan timbul di benak kita mengapa harus unta yang dijadikan objek? kenapa langit yang menjulang tinggi, gunung sebagai paku bumi dan bumi yang luas? Apa maksud dan tujuan Allah mengatakan itu semua. 

Untuk mengetahui keagungan dan rahasia empat makluk ciptaan allah itu kita perlu memerhatikan fakta ilmiah yang telah di uji coba oleh para ilmuan.

a. Fakta Ilmiyah Tentang Unta:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?" (QS. Al-Ghasyiah: 17). 

Dalam suatu riwayat yang telah di rawikan oleh Imam Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah dikemukakan bahwa, ketika Allah melukiskan ciri-ciri surga, kaum kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban ciptaan Allah. Maka dari riwayat ini jumhur ulama menafsirkan kata “ibil dengan unta walau sebagian ulama lain ada yang menafsirkan lain tapi ini dinilai lebih kuat karena berdasarkan riwayat.

Ketika Allah mengajak kita untuk memperhatikan unta, terdapat rahasia dan keajaiban dalam mahluk Allah yang satu ini. Salah satu indikasinya dalam Zoologi (IlmuHewan) telah ditemukan fakta ilmiah bahwa Unta memiliki kemampuan untuk memproduksi air dari lemak yang terdapat dalam punuknya melalui suatu proses kimia yang tak dapat ditandingi oleh industri manapun di dunia ini. 

Para pakar Fisiologi dan Kimia-pun berpendapat bahwa bahan baku yang paling baik dan mudah didapatkan untuk membuat air adalah lemak dan karbohidrat, karena dari proses pembakaran dari dua zat ini akan dihasilkan air, CO2, serta energi dalam jumlah skala besar yang digunakan tubuh unta dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Cadangan lemak itu, tidak disimpan di bawah lapisan kulit seperti manusia, sebab kalau disimpan di bawah kulitnya, suhu tubuhnya akan meningkat drastis dan hal ini akan berakibat fatal. Akan tetapi, dengan kekuasaan Allah, lemak tersebut tersimpan dalam punuknya. Akibatnya suhu tubuh unta tetap stabil dan terhindar dari dehidrasi karena keluarnya keringat secara berlebihan. Dan begitu juga unta dapat menjaga kestabilan jumlah cairan di dalam tubuhnya.

Ilmu pengetahuan modern menghasilkan penelitian bahwa kestabilan suhu tubuh unta melebihi hewan yang lain. Unta juga termasuk hewan yang mempunyai darah hangat dan memiliki cara tersendiri untuk menghindari suhu dingin. Ketika suhu udara dingin pembuluh-pembuluh yang terdapat di dalam kulitnya berkontraksi dan menciut sehingga kulitnya menjadi dingin. Dalam kondisi seperti ini, kulit unta berfungsi sebagai isolator agar hawa panas yang terdapat dalam tubuhnya tidak keluar. Sehingga menghindari menurunnya suhu di dalam tubuh unta. Akan tetapi jika sesudah itu tetap kedinginan, maka tubuhnya akan menggigil dan suhu tubuhnya menjadi hangat. 

Unta juga memiliki daya tahan tubuh dan kemampuan beradabtasi dengan cuaca yang ekstrim dan bersuhu tinggi, seperti di padang pasir. Pada siang hari tubuh unta mengantisipasi temperatur udara yang cenderung panas, dengan meningkatkan suhu tubuhnya hinggá mencapai 40,5 °C. Sedangkan ketika cuaca dingin, unta mengantisipasinya dengan mentransfer daya tahan tubuhnya keluar. Tubuhnya dapat bertahan terhadap perubahan suhu yang berkisar antara 35 °C hingga 40,5 °C. Jika kita bandingkan dengan suhu tubuh manusia, maka suhu tubuh manusia dalam kondisi normal adalah 37 °C. Penurunan dan peningkatan suhunya dari kondisi normal walaupun sedikit akan membuat manusia jatuh sakit. Manusia juga akan mati apabila suhu tubuhnya berfluktuasi seperti suhu tubuh unta yang dapat berubah-ubah antara 35-40,5 °C .

Menurut Imam Mawardi –sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan; mengapa unta yang disebutkan dalam ayat itu dan bukan hewan yang lain? Beliau memberikan alasan, karena unta secara fungsi dapat dilihat dari 4 dimensi; Pertama; Halubah (penghasil susu), kedua; Rakubah (saran transportasi), ketiga, Akulah (bahan konsumsi), keempat; Hamulah (Sarana angkutan).

b. Tiga Bingkai Fenomena Semesta Yang Harmonis (Ayat 18-20);
وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ{18} وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ{19} وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ{20} 
"Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghasyiah: 18-20). 
1. Langit Sebagai Atap Bumi Yang Tak Bertiang
Kemudian pada ayat 18, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan bagaimana langit ditinggikan. Ayat lain yang dapat melengkapi bagaimana langit itu ditinggikan, seperti ayat 2 surat al-Ra`du;

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا 

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat”. (QS. al-Ra'du: 2).

Dan ayat 10 Surat Luqman;

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا 

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya”. (QS. Luqman: 10).

Dalam penafsiran ayat ini Imam Alusi menjelaskan bahwa Allah menciptakan langit dengan tanpa tiang yang dapat dilihat, dari kata- tanpa tiang yang dapat dilihat- memberikan pengertian bahwa Allah meniggikan langit dengan memakai pilar/tiang tapi tidak dapat dilihat, yaitu tiang qudrah (`amad al-qudrah). Dan dalam istilah ilmu antariksa adalah gaya gravitasi (`amad al-jadzibiyah) yang juga tidak keluar dari qudratullah.
Selanjutnya pakar tafsir kontemporer sains Dr. Athif Maliji menjelaskan lebih luas bahwa, dua ayat tadi,-al-Ra`du: 2 dan Luqman: 10-, memberikan isyarat adanya daya tarik menarik (gravitasi) yang kuat diantara benda-benda langit dengan jarak yang saling berjahuan, dengan demikian tidak saling berbenturan antara satu dengan yang lainnya, dimana lembaga-lembaga sains dan tehnologi pada abad 17 M, menganut teori ilmuan Yunani kuno yang menyatakan; bintang-bintang yang ada dilangit bergelantungan pada bundaran kristal dan bumi tetap pada poros alam semesta, sehingga pada abad itu, ditemukan teori baru yaitu gaya gravitasi dan pegaruhnya terhadap tatanan semesta alam oleh ilmuan Inggris yang bernama Ishak Newton. Teori gravitasi ini menegaskan bahwa apabila tidak ada gaya Gravitasi -dimana setiap benda alam semesta berjalan pada porosnya- maka akan terjadi benturan dahsyat antara benda-benda tersebut dan alam ini akan hancur. Kemudian akhir-akhir ini, para ilmuan antariksa telah menemukan ‘Benang alam semesta’(khuyuth kauniyah) yang menghubungkan benda-benda yang di jagad raya; langit, bumi, planet, bintang dan sebagainya.
Di dalam al-Qur`an, Allah mengarahkan perhatian pada sifat langit yang sangat menarik, allah berfirman dalam surat al-anbiya 32:

وَجَعَلْنَا السَّمَاء سَقْفاً مَّحْفُوظاً وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ 

”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda yang terdapat padanya” (QS. al-Anbiya` 32). 

Menurut Professor Doktor Adnan Oktar pakar sains islam asal Ankara-Turki yang biasa di kenal dengan sebutan Harun Yahya menuturkan; Sifat langit ini telah dibuktikan dengan riset ilmiah yang dilakukan pada abad 20. Atmosfer yang menyelimuti bumi mempunyai fungsi penting demi kesinambungan kehidupan, seraya menghancurkan banyak meteor besar dan kecil yang mendekati bumi, atmosfer mencegahnya jatuh ke bumi dan membahayakan mahluk hidup.
Selain itu atmosfer menyaring cahaya dari luar angkasa yang berbahaya bagi mahluk hidup. Uniknya, atmosfer membiarkan menerobosnya cahaya yang bermanfaat dan tidak berbahaya, seperti sinar tampak, sinar ultraviolet, yang hanya sebagian kecil yang dibiarkan masuk oleh atmosfer, sangat penting untuk fotosentesis tumbuhan dan pertahanan hidup semua mahluk. Mayoritas sinar ultraviolet yang kuat dari matahari disaring oleh lapisan ozon atmosfer dan hanya bagian terbatas dan penting dari ultraviolet yang mencapai bumi. Fungsi atmosfer juga melindungi bumi dari dingin luar angkasa yang membekukan, yaitu sekitar minus 270 °C. Dan, selain atmosfer yang melindungi bumi dari efek yang berbahaya adalah “Sabuk Van Allen” -lapisan yang ditimbulkan medan magnet bumi-, ia juga bertindak sebagai perisai terhadap radiasi berbahaya yang mengancam planet bumi. Radiasi ini, yang secara konstan dipancarkan matahari dan bintang lain, sangat mematikan mahluk hidup dan menghancurkan semua kehidupan di atas bumi.
2. Gunung Sebagai Paku Bumi
Pada ayat ke 19, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan bagaimana gunung itu ditegakkan. Ada beberapa ayat lain, yang ada kaitan dengan masalah gunung, seperti al-Nahl 15:

وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ 
 ” Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu”.

Dan surat al-Naba` 6-7:

(أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً(6) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً(7 
  ”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak ?”. 

Kedua Ayat ini mengisyaratkan gunung sebagai pasak atau paku bumi, yang dapat menjaga keseimbangan bumi agar tidak goncang, dan telah dibuktikan secara ilmiah terdapat kesesuaian distribusi dan penyebaran gunung secara merata di persada bumi ini.
Peran gunung dalam menjaga keseimbangan permukaan bumi sangat jelas sekali. Khususnya gunung yang disebut oleh ahli geologi dengan barisan pegunungan (mountain chain) lipatan. Pegunungan ini tersebar di beberapa benua di dunia. Dan di bawah kulit bumi telah ditemukan, bahwa lapisan kulit bumi memiliki ketebalan antara 30-60 km. Penemuan ini diperoleh melalui peralatan yang canggih seperti alat yang bernama seismograf yang mampu mengetahui bahwa semua gunung memiliki akar terhunjam dilapisan yang liat untuk menguatkan lapisan kulit bumi yang paling tinggi dan keras seperti fungsi sebuah pasak. Gunung juga bekerja sebagai penahan benua-benua dari hantaman batu-batu karang yang mengalir di bawah kulit bumi yang keras ini. Bila akar gunung yang sangat kokoh tidak ada, maka lapisan kulit bumi akan menjadi sangat lunak. Sehingga, tidak ada lagi keseimbangan dan kekokohannya.
3. Bumi Bulat Terhampar 
Pada ayat 20, Allah mengajak manusia untuk berfikir bagaimana bumi itu dihamparkan. Ayat ini mengisyaratkan bentuk bumi. Sehingga pertanyaan yang muncul apakah bumi bulat atau terhampar? Untuk masalah ini, ada beberapa ayat yang berkaitan, diantaranya; Surat al-Naazi`aat 30:

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا 
”Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”. 

Kata ( دحا) menunjukkan 2 arti: 1. Datar dan luas 2. Bergulung. Inilah kejutan al-Qur`an yang secara lugas mengungkapkan keadaan bumi yang kita lihat dengan mata telanjang dalam bentuk fenomena terhampar datar dan sangat luas.

Sedangkan bumi itu sebenarnya bulat seperti telur. Ayat-ayat yang dijadikan hujjah bulatnya bumi; surat al-Rahman 17:
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ 
"Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya". 

Seandainya bumi datar, maka mesti hanya ada satu tempat terbit dan satu tempat terbenam. Tetapi karena bumi bulat, ketika matahari berada di timur bumi, ia akan menyinari sisi bagian timur saja, dan membuat gelap sisi bumi bagian barat, karena terhalang mendapatkan cahaya. Demikian pula yang terjadi sebaliknya. Ayat yang juga menunjukkan bumi bulat surat al-Zumar 5:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَعَلَى اللَّيْل
”Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam”. 

Istilah bergulung tidak sempurna dilakukan kecuali oleh benda yang bulat. Bukti yang paling meyakinkan adalah hasil dari pemotretan kamera canggih dari satelit buatan yang telah mengabadikan beberapa bentuk gambar bumi bulat, dilihat dari ruang angkasa.
Dalam ayat-ayat yang telah di singung tadi allah telah menyebutkan 4 makhluk yang luar biasa dalam ayat-ayatnya secara berurutan ini merupakan salah satu kehebatan al-Qur`an. Mengapa? Sebab dalam 4 ayat tadi, dengan segala ke-ijaz-annya, dapat menyinggung beberapa disiplin ilmu pengetahuan; zoologi (ilmu hewan), astronomi dan antariksa, arkeologi dan vulkanologi, geografi, serta geologi.
Allah menjadikan al-Quran sebabagi petunjuk dan hidayah bagi hamba-Nya, tak terkecuali ayat-ayatnya yang telah memuat nilai keilmiahan yang tak lepas dari petunjuk dan hidayah-Nya, menyuruh kita untuk berpikir, merenungi dan mentadabburi. Maka dalam koridor petunjuk ini siapa saja bisa merasakan petunjuk-Nya tergantung dari segi mana memandang sisi al-Quran baik orang awam maupun orang khusus termasuk para ilmuan juga bisa saja mendapatkan petunjuk dari ayat al-Quran yang mengandung muatan sains. Seperti yang telah terjadi pada professor Tajasen seorang pakar anatomi dan guru besar dalam bidang anatomi di universitas Chiang Mai Thaialand, beliau masuk Islam setelah membaca, merenungi dan membuktikan kebesaran allah lewat ayat:
إنَّ الذٌينّ كّفّرٍوا بٌآيّاتٌنّا سّوًفّ نصليهم نّارْا كٍلَّمّا نّضٌجّتً جلودهم بدلناهم جلوداَ غيرها ليذوقوا العّذّابّ إنَّ اللَّهّ كّانّ عّزٌيزْا حّكٌيمْا “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. an-Nisa: 56).
Sang professor bisa mengerti alasan kenapa allah menyiksa orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayatnya dengan siksaan yang pedih yaitu pembakaran dan pengulitan yang berulang-ulang. Setelah perenungan yang panjang dan penelitian mendalam dalam bidangnya (anatomi) beliau bisa memahami alasan itu dan membenarkanya; dalam potongan ayat itu dia menemukan konsep nyeri yang menimbulkan rasa sakit terhebat, melalui metode ilmu anatomi dan fisiologi yang telah dikuasai. Menurutnya seseorang nyeri didefenisikan sebagai sensori (rasa indrawi) dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi rusak, atau tergambarkan seperti itu. Menyitir salah satu defenisi tersebut, proses yang obyektif nyata yang terjadi bila nyeri muncul adalah akibat kerusakan jaringan. Selanjutnya dia menuturkan; Ada bagian-bagian tertentu dalam tubuh kita yang berperan spesifik untuk merespons atau mengantar sensasi nyeri, yakni ujung syaraf bebas. Dan ternyata tidak semua ujung-ujung syaraf berperan sebagai sarana pengangkut sensasi nyeri, ternyata kini diketahui hanya 2 tipe serabut syaraf yang berperan sebagai pengangkut nyeri yakni syaraf C dan A (delta). Ujung akhiran syaraf (NERVE ENDING) penghantar nyeri tersebut secara histologis “hanya terdapat pada lapisan kulit (dermis) saja !”.
Bila dokter mau melakukan sebuah sayatan bedah, maka dokter biasanya menyuntikkan obat blok terhadap syaraf tersebut (anestetik local) hal itu dimaksudkan agar signal nyeri akibat kerusakan jaringan tidak diteruskan ke sentral sehingga pasien yang tengah diiris, dipotong, disayat jaringan tubuhnya tidak merasa sakit sama sekali. Dan agar diketahui, sensasi sakit tersebut hanya ada pada lapisan kulit saja (otot, lapisan lemak tidak menyebabkan sensasi sakit sama sekali bila dilukai).
Itulah mengapa al-Qur’an mengatakan; ”Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab....”
Kemudian proses penyiksaat lain adalah dengan dimasukannya ke api neraka bisa diartikan proses pembakaran. Menurut Prof. Tajasen bahwa; Diantara semua bentuk musibah fisik yang dialami manusia, boleh dibilang kecelakaan akibat luka bakar merupakan musibah yang paling sial dari semua musibah-musibah yang ada dimuka bumi. Komplikasi akibat luka bakar sangat kompleks (dari ujung rambut hingga ujung kaki) dan sukar ditangani, biasanya pasien-pasien yang menderita luka bakar dengan prosentasi yang tinggi akan meninggal dunia, sukar memanage korban luka bakar. Mulai dari, pembengkakan pada daerah orofarings, intoksikasi karbon, dehidrasi berat, asidosis, ancaman gagal ginjal, kebocoran kapiler diseluruh tubuh, hingga ancaman sepsis berat akibat infeksi dan semua model symptom menakutkan dan mematikan ada dalam korban ”luka bakar”, Pantas bila al-Qur’an menyebut ”pembakaran” adalah model siksaan yang paling pedih, bukan model-model lain seperti (pentungan, pukulan, tusukan dan sebagainya).
Agama tidak hanya mendorong studi ilmiah, tapi juga menjadikan riset ilmiah konklusif dan tepat guna, karena didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya, agama adalah sumber tunggal yang menyediakan jawaban yang pasti dan akurat. Riset, jika dimulai dengan landasan yang akurat dan tepat, akan mengungkapkan kebenaran mengenai fenomena alam semesta dalam waktu yang tersingkat, dan dengan upaya dan energi yang minimum. Seperti di nyatakan oleh Albert Einstein, yang di anggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar abad ke 20, “Sains tanpa agama adalah pincang”, dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan tanpa panduan agama tidak akan berjalan dengan benar, tetapi justru banyak membuang waktu, energi dan biaya. Bahkan seringkali tidak memperoleh hasil yang menyakinkan.
Maka dalam Islam ilmu pengetahuan tidak bertentangan antar keduanya bahkan saling mendukung untuk mencapai sebuah perdaban baru yang lebih maju. Richard Gregory dalam Religion in Science and Civilization menulis: "Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan insani di seluruh taraf-taraf peradaban, dan untuk mencapai cita-cita tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan kita dan agama menentukan arti hidup manusia; kedua-duanya itu dapat menemukan lapangan umum untuk bekerja, tanpa ada pertentangan antara keduanya".
Ikhtitam
Dari pemaparan penulis di atas kita bisa memetik beberapa pelajaran berharga tentang ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur'an, diantaranya sebagai berikut:
- Dalam rangkaian ke-tiga ayat terakher tadi kita bisa mengambil pelajaran bagaimana Allah memberikan kenikmatan pada kita dengan menjadikan alam ini seimbang dan aman dari segala ancaman bahaya alam semesta; baik dari dalam atau luar bumi tempat kita berpijak. Kita patut mensyukuri nikmat Allah yang agung ini sehingga sampai sekarang kita masih bisa menghirup udara segar dan aman dari bahaya musibah alam. Dan semoga kita kelak di hari akhir termasuk dari golongan orang-orang yang di selamatkan dari azab Allah yang pedih dalam neraka.

- Dari beberapa ayat yang telah kita bacakan tadi masih banyak lagi ayat yang berbicara soal sains dan IPTEK. Tapi dengan begitu tidak bisa dikatakan bahwa al-Quran adalah kitab ilmu pengetahuan, seperti biologi, fisika, matematika, geografi dan sebagaianya karena al-Quran semata-mata kitab petunjuk bagi kita yang di dalamnya memuat banyak sekali berbagai ilmu, baik ilmu akhirat atau dunia dengan sekian kebenaran fakta ilmiah yang telah dipaparkan al-Quran semuanya dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan ke-Esa-an-Nya, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepada-Nya.

- Dengan ayat-ayat kauniyah-Nya pula pertanda betapa luas ilmu Allah. Dan itu baru sebagian kecil dari ilmu-Nya. Allah berfirman (QS. al-Kahfi: 109):

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً 
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

- Dengan ayat-ayat ilmiahnya ini juga menunjukkan bahwa al-Quran ditujukan tidak hanya untuk orang-orang Arab, walaupun telah menggunakan dengan bahasa mereka. Tapi al-Quran di tujukan untuk segenap manusia di seluruh jagat raya.

- Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa diantara hakikat kandungan al-Quran akan menjadi kenyataan sesudah periode/abad al-Quran diturunkan. Al-Quran menjelaskan segala sesuatu (Surat al-Nahl 89), Keajaibannya tidak akan pernah habis (HR. Turmudzi). Allah berfirman:

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً ثُمَّ لاَ يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلاَ هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ 
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.

Bisa kita bayangkan bagaimana al-Quran diturunkan pada seorang hamba Allah yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis, hal ini mustahil bila ayat-ayat yang disampaikan beliau sebagai tangan Tuhan untuk kita hanya rekaan nabi, dan al-Quran telah memuat segalanya mulai dari unsur-unsur yang bersifat agamis sampai yang berbau isyrat-isyarat keilmuan moderen, seperti: biologi, fisika, kimia, anatomi, arkeologi, geologi, kosmologi, zoologi, embriologi dan keilmuan modern lainya yang hanya kebenaranya bisa terungkap pada masa sekarang ini. Sehingga dari dimensi ini kebanyakan para ulama menggolongkan dalam katagori i’jaz -Quran (i’jaz ilmi).

Semua cabang ilmu yang muncul di dunai ini pada hakekatanya ditujukan dalam rangka khidmatul-Qur’an, untuk megetahui makna, memahami tujuan dan menguak akan kebenaran al-Quran. Sehingga kita akan bisa menemukan relefansi al-Quran yang “sholihun likulli zaman wa makan”.

Dan terakhir, Allah telah memuji hamba-hamba-Nya yang telah menggunakan daya pikirnya untuk merenungi, mentadaburi dan memahami secara benar makna dan hakekat tujuan al-Quran dengan sebutan orang yang “alim”. Allah berfirman dalam surat al-ankabut 47:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ 
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu".
Wallahu A'lam Bi Shawab.


Lainnya:

0 comments

Post a Comment

Popular Posts